Revaluasi Aset Tetap Berdasarkan Akuntansi

22 December 2015

Pendahuluan

Revaluasi aset tetap merupakan  penilaian kembali aset tetap. Umumnya aset tetap dinilai sebesar harga perolehan. Selama masa manfaat aset tersebut disusutkan sehingga nilai aset menjadi semakin kecil. Penggunaan harga perolehan menjadikan beberapa nilai aset di neraca tidak mencerminkan nilai sebenarnya. Gedung yang telah dipakai untuk operasi lebih dari 20 tahun, mungkin nilainya sudah mendekati nol, walaupun sebenarnya nilai gedung tersebut masih tinggi. Entitas yang memiliki umur lebih tua cenderung memiliki aset yang lebih kecil sedangkan entitas yang baru berdiri memiliki aset yang tinggi karena aset tetapnya dibeli dengan menggunakan harga terkini.
Penggunaan nilai historis (harga perolehan) menjadikan nilai aset tetap kehilangan relevansi karena tidak mencerminkan nilai terkini sehingga perlu dibaca dengan hati-hati. Beberapa analis kredit meminta bantuan apraisal untuk menilai kembali aset tetap jika akan digunakan untuk menentukan jumlah kredit dan kelayakan entitas menerima kredit. Namun nilai historis memiliki keunggulan dari sisi keandalan. Nilai historis didasarkan pada harga perolehan saat pembelian sehingga bukti dan nilainya dapat diverifikasi. Sedangkan nilai wajar atau nilai terkini untuk aset tetap tidak mudah diperoleh karena tidak ada harga pasar aktif untuk aset tetap. Jika ditentukan sendiri oleh perusahaan memungkinkan bias dalam penilaian. Penilaian oleh appraisal dapat memberikan hasil beragam jika asumsi yang digunakan berbeda.

Perubahan Standar Akuntansi

Aset tetap adalah aset berwujud yang digunakan dalam proses produksi atau penediaan barang dan jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau tujuan administrative, dan juga perkiraka untuk digunakan selama lebih dari satu periode. Aset tetap dapat berbentuk tanah, bangunan, pabrik dan peralatan bahkan secara spesifik IAS 16 menyebutnya sebagai aset tetap tetapi standar untuk Property, Plant and Equipment. Aset tetap diakui di Laporan Posisi Keuangan jika memenuhi definisi aset tetap dan nilainya dapat diukur dengan andal. Kriteria pengakuan tersebut berlaku pada saat perolehan awal dan juga pada saat pengeluaran setelah pereolehan awal.
PSAK 16 Aset Tetap revisi tahun 2011 tidak hanya mengatur aset tetap namun juga mengatur tentang penyusutan. Perbedaan utama dalam pengaturan PSAK 16 antara lain:
  1. Penilaian aset setelah perolehan awal dapat menggunakan nilai revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan penuruan nilai.
  2. Akumulasi penurunan nilai sebagai pengurang nilai aset tetap selain akumulasi penyusutan.
  3. Termasuk dalam biaya perolehan adalah nilai kini dari estimasi biaya restorasi aset di akhir masa penggunaan.
  4. Pertukaran aset tetap tidak mempertimbangkan apakah pertukaran aset tersebut sejenis atau tidak sejenis, semua pertukaran aset menggunakan dasar nilai wajar. Biaya inspeksi yang signifikan yang memiliki kriteria pengakuan dapat diakui sebagai nilai aset.
  5. Review masa manfaat dan nilai sisa dilakukan setiap pelaporan dan jika terdapat perubahan dilakukan penyesuaian.
  6. Metode penyusutan direview setiap pelaporan untuk memastikan bahwa pola konsumsi aset tersebut sesuai dengan metode penyusutan yang dipilih, dan perubahannya dianggap sebagai perubahan estimasi yang berlaku prospektif bukan perubahan metode akuntansi.

Revaluasi Aset tetap

Menurut PSAK 16 revisi 2011, revaluasi merupakan salah satu metode penilaian aset tetap. Jika suatu entitas memilih menggunakan metode revaluasi maka metode ini harus diterapkan secara konsisten oleh perusahaan. Perusahaan tidak boleh hanya menggunakan metode revaluasi sesekali untuk tujuan seperti yang disebutkan di atas, tetapi revaluasi harus dilakukan secara reguler.
Penerapan metode revaluasi dilakukan untuk aset tetap dalam kelompok yang sama. Tidak ada penjelasan rinci pengertian kelompok yang sama, namun secara implisit dapat dikatakan jika suatu entitas memiliki aset tetap yang disajikan dalam satu kelompok, maka model penilaian yang digunakan harus sama.
Pada saat melakukan revaluasi, selisih antara nilai tercatat aset dan nilai hasil revaluasi akan dibukukan sebagai surplus revaluasi. Revaluasi tidak diakui dalam laporan laba rugi tahun berjalan tetapi merupakan komponen dalam laba rugi komprehensif yang merupakan bagian dari ekuitas. Jika sebelum revaluasi entitas telah melakukan penurunan nilai maka, akan dilakukan pembalikan penurunan nilai sebelum diakui sebagai surplus revaluasi. Jika revaluasi menghasilkan nilai yang lebih kecil dari nilai aset tercatat maka penurunan nilai ini, pertama akan mengurangi surplus revaluasi (jika ada), setelah tidak ada lagi baru akan mengurangi saldo laba. Dengan pencatatan seperti itu, maka entitas akan mengakui penurunan nilai (impairment), ketika revaluasi menghasilkan nilai aset lebih kecil dari nilai terbawa (carrying value) dengan menggunakan metode biaya.
Surplus revaluasi yang telah disajikan ke saldo laba pada saat aset tersebut dihentikan pengakuan atau disusutkan. Surplus revaluasi akan dipindahkan ke saldo laba selama sisa masa manfaat aset tersebut, jika aset tersebut dihentikan pengakuan pemindahannya dilakukan sekaligus dari sisa surplus revaluasi yang masih ada. Pemindahan dilakukan langsung dengan mendebit surplus revaluasi dan kredit saldo laba tanpa melalui laporan laba rugi.
Revaluasi harus dilakukan dengan keteraturan yang cukup reguler sehingga nilai tercatat aset tidak berbeda secara signifikan dengan nilai wajarnya. Standar tidak menyebutkan berapa tahun sekali, revaluasi dilakukan tergantung perkembangan nilai wajar aset tetap. Jika harga tidak berubah signifikan mungkin revaluasi dapat dilakukan tiga atau lima tahun sekali, namun jika harga signifkan berubah revaluasi mungkin dilakukan setiap tahun.
Nilai wajar adalah nilai di mana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar. Berdasarkan konsep nilai wajar, harga pasar aktif merupakan nilai wajar yang ideal dan memiliki keandalan yang tinggi, karena mudah diverifikasi. Namun jika tidak ada harga pasar aktif, dapat digunakan nilai pasar terkini, harga pasar dari aset serupa, menggunakan pendekatan nilai kini arus kas di masa depan atau dengan metode nilai opsi.
Khusus untuk menentukan nilai wajar dalam model revaluasi aset tetap, standar secara eksplisit menyebutkan bahwa nilai tanah, bangunan dilakukan oleh penilai independen yang profesional berdasarkan bukti pasar. Sedangkan nilai wajar pabrik dan peralatan menggunakan nilai pasar yang ditentukan oleh penilai. Nama penilai harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
Apabila revaluasi dilakukan, akumulasi penyusutan dapat diberlakukan dengan dengan dua cara yatu metode eliminasi dan proporsional. Pertama dengan cara eliminasi, akumulasi penyusutan ditutup sehingga diperoleh nilai buku aset, nilai ini kemudian ditambah atau dikurangi sehingga nilainya menjadi nilai hasil revaluasi aset yang terbaru. Kedua dengan cara proporsional, dengan metode ini, nilai aset dan akumulasi penyusutan akan dinaikkan nilainya sebesar rasio revaluasi (rasio nilai hasil revaluasi dengan nilai buku).
Pajak atas revaluasi menurut PSAK 16 dipertanggungjawabkan mengikuti ketentuan dalam PSAK 46 tentang pajak penghasilan. Atas selisih revaluasi tidak diakui dalam laba rugi tahun berjalan tetapi diakui dalam laba komprehensif, maka konsekuensi pajaknya akan dimasukkan dalam komponen laba komprehensif. Jika pajak atas revaluasi ini tidak dikenakan menurut peraturan perpajakan maka konsekuensi pajaknya akan diakui sebagai aset atau liabiltas pajak tangguhan. Sebagai contoh atas keuntungan revaluasi tanah akan diakui debit beban pajak tangguhan atas surplus revaluasi dan kredit liabilitas pajak tangguhan.

Aspek Perpajakan

Undang-Undang Pajak Penghasilan dalam pasal menyebutkan bahwa selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap merupakan obyek pajak. Ketentuan dalam UU PPh ini dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 79/PMK.03/2008 yang telah diubah terakhir No. 191/PMK.010/2015.
Revaluasi dilakukan oleh entitas yang telah memenuhi kewajiban perpajakan dan tidak termasuk perusahaan yang diperbolehkan menggunakan pembukuan dengan dollar dan pembukuan dalam bahasa Inggris. Entitas yang akan melakukan revaluasi harus mengajukan permohonan kepada Direktorat Jendral Pajak dan atas permohonan tersebut diterbitkan surat keputusan penilaian aktiva tetap perusahaan.
Beberapa ketentuan umum revaluasi menurut aturan perpajakan dapat diringkaskan berikut ini:
  1. Revaluasi dilakukan atas seluruh aktiva tetap perusahaan termasuk tanah dengan status hak milik atau hak guna bangunan.
  2. Revaluasi dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai wajar aktiva tetap yang ditetapkan oleh perusahaan jasa penilai atau ahli penilai yang memperoleh izin dari Pemerintah. Jika hasil revaluasi tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya dapat ditetapkan oleh DJP.
  3. Selisih revaluasi dikenakan pajak final sebesar 3 s.d 6 % sesuai PMK No. 191/PMK.010/2015.
  4. Penilaian kembali aktiva tetap tidak dapat dilakukan sebelum lewat jangka waktu lima tahun terhitung dari revaluasi terakhir.
  5. Hasil revaluasi akan memperbaruhi nilai tercatat aset dan menjadi dasar penyusutan fiskal.
  6. Revaluasi yang tidak memperoleh persetujuan DJP untuk penilaian kembali aktiva tetap, maka nilai revaluasi yang ditetapkan tidak dapat digunakan sebagai dasar melakukan penyusutan fiskal.
Ketentuan revaluasi menurut pajak tersebut telah 10 tahun digunakan sebagai dasar pencatatan akuntansi. Entitas banyak melakukan revaluasi aset saat IPO, restrukturisasi dan kuasi reorganisasi. Standar akuntansi mengakomodasi ketentuan dalam perpajakan karena standar menyatakan “selama peraturan pemerintah mengijinkan”. Entitas memiliki insentif untuk melakukan revaluasi karena ada manfaat langsung yang dapat diperoleh berupa harga jual saham dan nilai akuisisi yang lebih tinggi sehingga entitas memperoleh dana untuk membayar pajak atas revaluasi dan jasa penilai.

akuntansi | Konsultan | pajak | PSAK 16 | Revaluasi Aset Tetap |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Management Office

Gedung Perkantoran Taman Melati Margonda
Jl. Raya Margonda No.525A Depok Office 21
Telp : +62.8132.867.0449
Email : info@ernalakonsultan.com

Visitor

025097
Visit Today : 16
Visit Yesterday : 18

Search